“Putri Pedes, anakku..” panggil sang ayah.
Sang Putripun memalingkan wajahnya mencari suara yang memanggil namanya, dilihatnya sosok tua yang sangat dikenalinya tersebut. Aneh, sang ayah terlihat tegang dan bingung.
“Maaf, saya salah orang” ucap Ki Handa.
Sang Putri bingung, kenapa sang ayah tidak mengenalinya. “tapi ini aku ayah, puteri pedas, anakmu”
“Kamu bukan putriku! PUTRIKU CANTIK DAN BAU, jangan sembarangan mengaku!” hardik Ki Handa.
Dalam kebingungan sang Putrimelangkah mundur, langkahnya terhenti di dinding belakangnya yang ternyata sebuah cermin besar, sebuah wajah yang tidak dikenalinya terpantul dari cermin tersebut.
“Siapa orang itu?” batin sang putri. Dilihat sosok yang memakai gaun seperti yang dipakainya, tetapi wajahnya bukan wajah dirinya.
Wajah sosok itu mengerikan, mata besar dengan mulut lebar, kulitnya berlendir kehijauan dengan bentol-bentol kecil dibeberapa bagian. Wajah itu wajah kodok!
Sang Putriberusaha mengingat-ingat beberapa kejadian yang dialaminya, dan dia baru menyadari satu hal bahwa hewan berbulu dimana dia membenamkan wajahnya adalah hewan beracun yang ternyata mengubahnya menjadi Putri Kodok.
Entah berapa lama sang Putripingsan dan bagaimana dia bisa berada di tempat ini, ketika sang puteri membuka matanya dia mendapati dirinya berada di sebuah kolam ikan di lingkungan istana.
“Nah, ini baru kodok mantap! Bodinya cocok untuk dijadikan swike sebagai santap malam sang Ratu.” ujar seseorang.
“Ah, kau ini becanda saja Tuminah. Mana mungkin Ratu mau makan makanan seperti ini.” timpal orang lain.
“Hei, Tuminting ! Asal kau tahu saja ya, Ratu kita itu salah satu makhluk terakus. Apa saja bisa dimakannya. Bahkan saking rakusnya, kemarin aku liat ada tulang-tulang tikus berserakan di sekitar kamarnya.”
“Nah, kamu tuh salah sangka. Ratu kita gak doyan tikus. Dia sangat suka oseng-oseng ular kobra. Dua hari lalu aku yang membuatkan makanan itu untuk Ratu.”
“Ya sudahlah kalau begitu. Ini kodok mau diapain ? Tetep mau diswike ?” Tuminah pun bertanya. Namun, blum sempat si Tuminting menjawab, kodok yang mereka bicarakan sudah lompat menjauh menuju ke taman belakang istana.
#####
Ternyata si kodok melompat terlalu jauh!!! Terjun bebaslah si Putri Kodok itu terjun bebas dua lantai kemudian mendarat dengan perutnya yang mencecap tanah terlebih dahulu. Kodok pedes berguling dan akhirnya terhenti di tengah taman dengan posisi telentang. Tangannya menggapai-gapai berusaha membalikkan tubuhnya. Tapi apa daya, tubuh kontetnya menghalangi segala usahanya itu.
Sang Pangeran yang bosan berbaring, berjalan-jalan ke taman belakang istana dan dia terkejut demi mendapati seekor kodok kontet yang terbaring telentang disana.
“Ni kodok lagi godain gue, ya?” Matanya berputar-putar seakan berpikir keras. “Tapi kasian juga yak! Sapa tahu tendangan gue berguna bagi dirinya.”
Tanpa babibu si Putri Kodok kontet nan malang terlempar ke sebuah pohon dan memantul kembali ke arah Pangeran.
“Hah??? Kok balik ke gue lagi??? Mana posisinya masih telentang kayak tadi lagi!” Pangeran lalu meraih Putri Kodok kontet tersebut.
Setelah cukup lama memandanginya, sang Pangeran berkata ‘’Ni kodok gudikan amat ya.. gw mandiin ah.. sapa tau bisa jadi temen curhatan gw..”
Sang Pangeran segera memanggil anak buahnya untuk membawa sang Putri Kodok dengan tandu untuk dimandikan oleh pembantu istana. Sementara sang Pangeran menanti di pelataran istana sembari menikmati segelas teh hangat dan beberapa cemilan khas rakyat kerajaan Sedeem.
Beberapa saat kemudian keluarlah para pembantu istana dengan membawa sebuah tandu yang tertutup kain beludru merah.Hati sang Pangeran berdegup kencang. Dia penasaran dengan hasil kerja para pembantu istana ‘mendandani’ sang Putri kodok.
Selimut beludru dibukanya… Daaan..jreng jreng..!!!
“Yah sama aja.. masih gudikan..”
“Udahlah sini.. aku mo curhat..”
Secara teratur para pelayan segera meninggalkan mereka berdua setelah melihat isyarat dari Pangeran..

Your Footprints Here