Tinta Moncrot Part II

10 Feb

“Putri Pedes, anakku..” panggil sang ayah.
Sang Putripun memalingkan wajahnya mencari suara yang memanggil namanya, dilihatnya sosok tua yang sangat dikenalinya tersebut. Aneh, sang ayah terlihat tegang dan bingung.
“Maaf, saya salah orang” ucap Ki Handa.
Sang Putri bingung, kenapa sang ayah tidak mengenalinya. “tapi ini aku ayah, puteri pedas, anakmu”
“Kamu bukan putriku! PUTRIKU CANTIK DAN BAU, jangan sembarangan mengaku!” hardik Ki Handa.
Dalam kebingungan sang Putrimelangkah mundur, langkahnya terhenti di dinding belakangnya yang ternyata sebuah cermin besar, sebuah wajah yang tidak dikenalinya terpantul dari cermin tersebut.
“Siapa orang itu?” batin sang putri. Dilihat sosok yang memakai gaun seperti yang dipakainya, tetapi wajahnya bukan wajah dirinya.
Wajah sosok itu mengerikan, mata besar dengan mulut lebar, kulitnya berlendir kehijauan dengan bentol-bentol kecil dibeberapa bagian. Wajah itu wajah kodok!

http://gesaf.wordpress.com

Sang Putriberusaha mengingat-ingat beberapa kejadian yang dialaminya, dan dia baru menyadari satu hal bahwa hewan berbulu dimana dia membenamkan wajahnya adalah hewan beracun yang ternyata mengubahnya menjadi Putri Kodok.

Entah berapa lama sang Putripingsan dan bagaimana dia bisa berada di tempat ini, ketika sang puteri membuka matanya dia mendapati dirinya berada di sebuah kolam ikan di lingkungan istana.

“Nah, ini baru kodok mantap! Bodinya cocok untuk dijadikan swike sebagai santap malam sang Ratu.” ujar seseorang.

“Ah, kau ini becanda saja Tuminah. Mana mungkin Ratu mau makan makanan seperti ini.” timpal orang lain.

“Hei, Tuminting ! Asal kau tahu saja ya, Ratu kita itu salah satu makhluk terakus. Apa saja bisa dimakannya. Bahkan saking rakusnya, kemarin aku liat ada tulang-tulang tikus berserakan di sekitar kamarnya.”
“Nah, kamu tuh salah sangka. Ratu kita gak doyan tikus. Dia sangat suka oseng-oseng ular kobra. Dua hari lalu aku yang membuatkan makanan itu untuk Ratu.”
“Ya sudahlah kalau begitu. Ini kodok mau diapain ? Tetep mau diswike ?” Tuminah pun bertanya. Namun, blum sempat si Tuminting menjawab, kodok yang mereka bicarakan sudah lompat menjauh menuju ke taman belakang istana.

#####

Ternyata si kodok melompat terlalu jauh!!! Terjun bebaslah si Putri Kodok itu terjun bebas dua lantai kemudian mendarat dengan perutnya yang mencecap tanah terlebih dahulu. Kodok pedes berguling dan akhirnya terhenti di tengah taman dengan posisi telentang. Tangannya menggapai-gapai berusaha membalikkan tubuhnya. Tapi apa daya, tubuh kontetnya menghalangi segala usahanya itu.

Sang Pangeran yang bosan berbaring, berjalan-jalan ke taman belakang istana dan dia terkejut demi mendapati seekor kodok kontet yang terbaring telentang disana.

“Ni kodok lagi godain gue, ya?” Matanya berputar-putar seakan berpikir keras. “Tapi kasian juga yak! Sapa tahu tendangan gue berguna bagi dirinya.”

Tanpa babibu si Putri Kodok kontet nan malang terlempar ke sebuah pohon dan memantul kembali ke arah Pangeran.

“Hah??? Kok balik ke gue lagi??? Mana posisinya masih telentang kayak tadi lagi!” Pangeran lalu meraih Putri Kodok kontet tersebut.

Setelah cukup lama memandanginya, sang Pangeran berkata ‘’Ni kodok gudikan amat ya.. gw mandiin ah.. sapa tau bisa jadi temen curhatan gw..”

Sang Pangeran segera memanggil anak buahnya untuk membawa sang Putri Kodok dengan tandu untuk dimandikan oleh pembantu istana. Sementara sang Pangeran menanti di pelataran istana sembari menikmati segelas teh hangat dan beberapa cemilan khas rakyat kerajaan Sedeem.

Beberapa saat kemudian keluarlah para pembantu istana dengan membawa sebuah tandu yang tertutup kain beludru merah.Hati sang Pangeran berdegup kencang. Dia penasaran dengan hasil kerja para pembantu istana ‘mendandani’ sang Putri kodok.

Selimut beludru dibukanya… Daaan..jreng jreng..!!!

“Yah sama aja.. masih gudikan..”
“Udahlah sini.. aku mo curhat..”

Secara teratur para pelayan segera meninggalkan mereka berdua setelah melihat isyarat dari Pangeran..

Continue reading 

Tinta Moncrot Part 1

9 Feb

Suasana tenang kerajaan Sedeem tiba-tiba terusik saat pintu gerbang terbuka, seorang ratu keluar dan bertitah “Lain kali yaaa… klo ngerjain sesuatu tuh yang teliti… ini bikin surat ke kerajaan sebelah aja dari tadi bolak-balik salah melulu !” Patih Kai hanya menekuk mukanya sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Tanpa dinyana tanpa di duga ketika patih Kai tengah menunduk dilihatnya seonggok bangkai tikus. Dalam hatinya sang Patih bertanya, “Mengapa malah kamu yang mati duluan duhai tikus ?” Namun, akhirnya Sang Patih pun melaksanakan titah Sang Ratu.

Di sudut lain kota Gurat, seorang ibu sedang bingung karena mimpinya semalam, “Siapa ya, anak muda yang malam tadi maen bulutangkis sama anak saya di mimpi saya ?. Mana dia ngalahin anak saya mulu lagi. Saya harus cari tahu !” Si ibu kembali mengulek cabai yang semakin lama semakin mahal. Sembari mengulek, ia bersenandung “Duhai putriku.. lalalala.. Kapankah engkau hendak menikah.. lalalalala.. Menggenapi separuh agamamu.. lalalala.. Selain ituuuu.. Bunda sungguh rindu akan hadirnya seorang cucu.. lalalala..”

Sebuah percakapan tadi pagi melintas di benaknya tentang isu cabai rawit impor dari Negara Thai yang jauh lebih murah namun kurang pedas jika dibanding rawit lokal. Apakah putrinya terlalu pedas seperti cabai rawit lokal itu ? Akankah cabai rawit impor mampu mengalahkan kepedasan putrinya ? Hatinya galau, antara cabai dan putrinya

Kembali lagi ke kisah Patih Kai yang ada di kerajaan. Setelah urusan dari Ratu selesai, dia berjalan-jalan di Ibukota Kerajaan. Tampaklah sesosok pemuda, yang tak lain dan tak bukan merupakan Putra Mahkota. “Pangeran, sedang apa di sini dan apakah benda yang sedang Pangeran pegang itu ?” tanya Sang Patih. “Oh, Ki Patih, aku pun tak tahu apa yang sedang kupegang ini. Saat bangun tidur kudapati benda ini.” jelas sang Pangeran. Benda yang dipegang merupakan sebuah benda berbulu angsa yang terjalin sedemikian rupa. Di ujung jalinannya terdapat sebuah kayu bulat yang menyerupai kepala.

Di ujung kota Gurat, si Ibu yang sedang mengulek menghentikan ulekannya. Mengusir resah ia memencet Blubernya. Ia khawatir akan keselamatan putri pedesnya itu. “Ya, Halo ? Bunda. Iya ni lagi kerja. Sehat, sehat. Iya, iya, makasih Bunda” Si putri berbohong, sebenarnya ia sedang dongkol terhadap ratu. Ia coba memutar kemudi kendaraanya ke sebelah kiri dan tampaklah seorang pangeran sedang bercakap-cakap dengan Ki Patih Kai. Senyuman si Putri mengurai, tapi cepat ia sembuyikan. Lalu ia menyapa sang pangeran “Selamat pagi Pangeran.” sapa sang putri dengan wajah datar “Sedang apa dikau termangu di sana ?” lanjutnya. “Selamat pagi Putri Pedes. Aku sedang mengamati benda yang baru saja kutemukan ini. Aku mendapatinya saat bangun tidur. Benda ini telah ada di sampingku.”

“Boleh kulihat?” tanya sang putri. Sang Pangeran menyerahkan benda tersebut untuk diamati sang putri. Tiba-tiba sang putri tersenyum lebar. “Waah… Dimana engkau mendapatkannya ?” (sang pangeran membatin “Perasaan tadi gw dah bilang dah !”) Ini adalah ayambolakbalik. Sebuah permainan rakyat dari negeri timur nan jauh disana. Apakah kau mau bermain denganku ?” Sang putri mengajak pangeran memainkan salah satu permainan favoritnya. P angeran terdiam sejenak, lalu ia menjawab, “Hmmm… aku sangat ingiiiiiiin sekali bermain denganmu! Namun apa daya, selain bau jigong yang masih menghiasi organ pernafasanku, keringat yang masih menetes ini perlu kukeringkan terlebih dahulu, Putri Pedes! Continue reading 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.